SEMARANG – Mahasiswa hukum tak cukup hanya memahami pasal dan aturan perundang-undangan. Kemampuan menyampaikan persoalan hukum kepada masyarakat melalui tulisan yang jelas dan mudah dipahami juga menjadi keterampilan penting.
Hal itu menjadi salah satu fokus Sekolah Jurnalistik Angkatan XXVIII yang digelar Fakultas Hukum Universitas Islam Sultan Agung (FH Unissula) Semarang bersama Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Jawa Tengah, Sabtu (10/10/2026).
Pelatihan yang berlangsung secara daring tersebut diikuti 95 mahasiswa FH Unissula dari kelas reguler, karyawan eksekutif, hingga program Rekognisi Pembelajaran Lampau (RPL).
Kegiatan ini sekaligus menandai keberlanjutan kolaborasi FH Unissula dan PWI Jateng yang telah berjalan selama satu dekade, sejak 2016 hingga 2026.
Ketua PWI Jateng Setiawan Hendra Kelana mengatakan, keberlangsungan program tersebut menunjukkan bahwa pelatihan jurnalistik memiliki manfaat bagi mahasiswa, khususnya dalam mengembangkan kemampuan menulis dan menyampaikan informasi kepada publik.
Menurut dia, kolaborasi antara pendidikan hukum dan jurnalistik dapat membekali mahasiswa agar tidak hanya memahami penerapan hukum, tetapi juga mampu menjelaskan persoalan hukum dengan bahasa yang mudah dipahami masyarakat.
“Hukum jika disuarakan tanpa dipublikasi tentu akan berada di ruang sunyi. Sebaliknya, jurnalistik jika tidak dilandasi pemahaman hukum yang baik, tentu berpotensi menimbulkan kerawanan. Perpaduan antara hukum dan jurnalistik adalah sesuatu yang sangat ideal,” tegas pria yang akrab disapa Iwan tersebut.
Iwan menambahkan, mahasiswa hukum juga perlu memiliki kemampuan memilah informasi dan berpikir kritis di tengah perkembangan teknologi informasi, termasuk implementasi Undang-Undang Informasi dan Transaksi Elektronik (UU ITE).
Dia berharap mahasiswa dapat berperan sebagai penjernih informasi di tengah masyarakat, bukan ikut menyebarkan kabar bohong atau hoaks.
Kemampuan mengubah bahasa hukum yang rumit menjadi tulisan yang lugas dan mudah dipahami, lanjut dia, menjadi nilai tambah bagi lulusan FH Unissula ketika berkarier sebagai advokat, jaksa, hakim, maupun praktisi hukum lainnya.
“Sekolah Jurnalistik juga membentuk mahasiswa berpikir kritis sesuai fakta. Seperti halnya mencermati dinamika putusan peradilan belakangan ini, mahasiswa dapat menganalisis dan mengomunikasikannya ke publik sekaligus membangun jaringan dengan insan pers,” tambah Iwan.
Dekan FH Unissula Dorong Kolaborasi Berlanjut
Dekan FH Unissula Prof. Dr. Jawade Hafidz mengapresiasi kerja sama dengan PWI Jateng yang dinilai memberikan tambahan wawasan dan kompetensi bagi mahasiswa.
Menurut dia, kemampuan jurnalistik semakin relevan di era digital ketika masyarakat membutuhkan informasi yang benar, objektif, dan dapat dipertanggungjawabkan.
“Sebagai Dekan, saya memandang kerja sama ini sangat produktif dan memberikan wawasan tambahan bagi mahasiswa. Di era digitalisasi, masyarakat butuh informasi yang benar dan objektif. Kegiatan ini selaras dengan capaian FH Unissula sebagai penyelenggara pendidikan, yaitu memberikan impact atau dampak langsung bagi masyarakat,” tutur Prof. Jawade.
Dia berharap kerja sama tersebut dapat terus berlanjut melalui pembaruan nota kesepahaman untuk lima tahun ke depan, sekaligus menghadirkan inovasi baru dalam pelaksanaan program.
Jawade juga menyebut, sebagian lulusan FH Unissula memilih berkarier di dunia kewartawanan. Hal itu menunjukkan bahwa keterampilan jurnalistik dapat menjadi bekal tambahan bagi lulusan hukum dalam menekuni berbagai bidang profesi.
Materi Etika hingga Penulisan Artikel
Sekolah Jurnalistik Angkatan XXVIII menghadirkan sejumlah pemateri dari jajaran PWI Jateng dan praktisi hukum.
Ketua Dewan Kehormatan PWI Jateng Amir Machmud NS membawakan materi Etika Jurnalistik dan Etika Bermedia. Dia menyoroti pentingnya etika di tengah persaingan media arus utama dan media sosial.
“Perkembangan bermedia saat ini sangat komplikatif. Karena itu, Kode Etik Jurnalistik saja tidak cukup, tetapi harus dilengkapi dengan Etika Bermedia secara luas agar masyarakat ikut bijak dan tidak saling menyinggung dalam berkomunikasi digital,” urainya.
Sementara itu, Wakil Ketua Bidang Pendidikan PWI Jateng Alkomari menyampaikan materi konvergensi media. Dia membahas perubahan yang dihadapi media konvensional di era digital, mulai dari pola produksi, model bisnis, hingga cara berinteraksi dengan audiens.
Praktisi hukum Budi Sutomo memberikan pembekalan mengenai penyusunan legal opinion atau pendapat hukum secara sistematis dan aplikatif untuk menjawab persoalan hukum klien maupun perusahaan.
Adapun Ketua Badan Uji Kompetensi Wartawan (UKW) PWI Jateng R. Widiyartono membahas teknik mengemas gagasan menjadi artikel yang menarik dan mudah dibaca.
Materi tersebut mencakup penyusunan kerangka tulisan, penentuan jenis artikel, hingga teknik membuat paragraf pembuka yang mampu menarik perhatian pembaca.
Melalui pelatihan ini, mahasiswa diharapkan tidak hanya memahami teori hukum, tetapi juga mampu menyampaikan gagasan secara tertulis dengan baik, kritis, dan bertanggung jawab.






