SEMARANG – Kesibukan menjadi wartawan dan pengurus organisasi ternyata tak membuat Moh Miftahul Arief berhenti belajar.
Pengurus PWI Jawa Tengah Seksi Organisasi itu kini resmi menyandang gelar doktor setelah berhasil menyelesaikan studi doktoral di UIN Walisongo Semarang.
Arief dinyatakan lulus dalam Ujian Terbuka Promosi Doktor Studi Islam, Rabu (30/9/2026). Ia mempertahankan disertasi berjudul Urban Marketing: Strategi Pemasaran Madrasah Ibtidaiyah (MI) pada Masyarakat Perkotaan.
Dalam ujian yang dipimpin Rektor UIN Walisongo, Prof Dr H Musahadi, MAg, Arief meraih nilai 3,98.
Gelar tersebut membuat Arief menjadi doktor ketujuh yang masuk dalam jajaran kepengurusan PWI Jateng periode 2025-2030.
Sebelumnya, ada Dr Agus Fathuddin Yusuf, Dr Sri Syamsiyah, Dr Hery Pamungkas, Dr Agus Triyono, Dr Henri Peluppesy, dan Dr Suparman.
Ketua PWI Jawa Tengah Setiawan Hendra Kelana mengatakan capaian Arief patut diapresiasi. Sebab, proses menyelesaikan pendidikan doktoral dijalani di tengah aktivitas jurnalistik dan kesibukan organisasi.
“Alhamdulillah, kami turut senang saudara kami Mas Moh Miftahul Arief bisa meraih gelar doktor. Ini capaian yang luar biasa. Di samping berkutat dengan tulisan-tulisan populer dalam jurnalistik, masih berjuang menyelesaikan narasi-narasi akademik disertasi, dan berhasil mempertahankannya di hadapan majelis penguji,” ujar Iwan, sapaan Setiawan.
Menurut Iwan, bertambahnya pengurus bergelar doktor menunjukkan perhatian terhadap pendidikan di lingkungan PWI Jateng.
“Ini membuktikan organisasi PWI Jateng diisi pribadi-pribadi yang aware pada pendidikan. Semoga nanti ada personel-personel dari PWI Jateng yang menyusul, mengikuti jejak Mas Arief dan pengurus lainnya,” katanya.
Ia berharap pendidikan tidak berhenti pada gelar, tetapi ikut memperkuat peran pengurus dalam menjalankan organisasi dan profesinya.
“Semoga PWI makin bagus peran dan eksistensinya,” ujarnya.
Meneliti Cara Madrasah Mendapat Kepercayaan
Dalam disertasinya, Arief tidak sekadar membahas soal promosi madrasah. Ia meneliti bagaimana madrasah ibtidaiyah di kawasan perkotaan membangun kepercayaan orang tua dan menarik minat calon peserta didik.
Penelitian dilakukan di empat madrasah, yakni MI Nurul Islam Ngaliyan, MI Tarbiyatul Khairat Pedurungan, MI Taufiqiyah Tembalang, dan MI Nashrul Fajar Tembalang.
Dari penelitian tersebut, Arief menemukan bahwa pertimbangan orang tua dalam memilih madrasah semakin beragam.
Faktor agama dan jarak sekolah tetap ada, tetapi bukan satu-satunya pertimbangan. Mutu pendidikan, pelayanan, keamanan, komunikasi, dan reputasi lembaga juga ikut diperhatikan.
“Saya menemukan bahwa masyarakat perkotaan tidak lagi memilih madrasah hanya karena faktor agama atau kedekatan lokasi. Mereka juga mempertimbangkan mutu, pelayanan, keamanan, komunikasi, dan reputasi lembaga,” jelas Arief.
Arief menggunakan pendekatan Segmentation, Targeting, Positioning (STP) dan bauran pemasaran 7P dalam penelitiannya.
Ia juga menawarkan Urban-Spiritual Resonance Model dengan empat tipologi pemasaran, yakni Professional-Premium, Balanced-Moderate, Achievement-Inclusive, dan Grassroots-Authentic.
Menurutnya, setiap madrasah memiliki karakter dan kekuatan masing-masing. Karena itu, pola pemasaran tidak harus dibuat seragam.
“Setiap madrasah tidak harus menjadi sama. Mereka dapat memilih model yang paling sesuai dengan karakter masyarakat, lingkungan, dan kekuatan yang dimiliki masing-masing,” tegasnya.
Bagi Arief, promosi hanyalah salah satu bagian. Hal yang lebih penting adalah bagaimana lembaga pendidikan membangun mutu dan kepercayaan secara berkelanjutan.
“Madrasah yang berhasil bukan yang paling gencar berpromosi. Madrasah yang berhasil adalah madrasah yang mampu menghadirkan mutu dan kepercayaan secara konsisten,” pungkasnya.
Dinilai Pembelajar yang Konsisten
Direktur Pascasarjana UIN Walisongo Semarang, Prof Dr Muhyar Fanani, MAg, turut memberikan apresiasi.
Menurutnya, Arief merupakan sosok yang konsisten menjadikan aktivitasnya sebagai proses belajar.
“Dr. Arief adalah seorang pembelajar sejati. Setiap langkahnya dapat dijadikannya sebagai media belajar. Saya teringat dengan perkataan almarhum Prof. Satjipto Rahardjo bahwa seorang intelektual itu berbicara dengan pena. Dr. Arief benar-benar mempraktikkan hal ini,” ujar Prof Muhyar.
“Kemampuan menulisnya di atas rata-rata mahasiswa kami,” tegasnya.
Bagi PWI Jateng, capaian Arief sekaligus menambah daftar pengurus yang memilih tetap melanjutkan pendidikan di tengah kesibukan sebagai wartawan dan aktivis organisasi.






