OPSI Gandeng PWI Salatiga, Wartawan Diajak Lebih Peka Saat Liput Kekerasan Berbasis Gender

Sabtu, 26 September 2026

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

SALATIGA – Meliput kasus kekerasan berbasis gender bukan sekadar soal siapa cepat mendapatkan informasi. Ada hal lain yang tak kalah penting: bagaimana berita dibuat tanpa menambah luka bagi korban.

Hal inilah yang menjadi perhatian dalam Pelatihan Perspektif Pencegahan dan Penanganan Kekerasan Berbasis Gender (KBG) bagi Jurnalis dan Pegiat Media yang digelar di Wahid Prime, Jumat-Sabtu (25-26/9/2026).

Kegiatan tersebut diselenggarakan Organisasi Perubahan Sosial Indonesia (OPSI) Nasional bekerja sama dengan Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Salatiga, dengan dukungan United Nations Trust Fund to End Violence against Women (UNTF) melalui SPEKHAM.

Sejumlah wartawan dari Kota Salatiga, Kabupaten Semarang dan sekitarnya mengikuti pelatihan yang berlangsung pukul 09.00-17.00 WIB tersebut.

Kerja sama ini menjadi ruang bagi jurnalis untuk kembali mengasah cara pandang dalam memberitakan kasus kekerasan, terutama yang melibatkan perempuan sebagai korban.

Direktur Yayasan SPEKHAM Rahayu Purwaningsih mengatakan, media mempunyai peran penting dalam meningkatkan pemahaman masyarakat mengenai kekerasan berbasis gender sekaligus mendorong pemenuhan hak-hak korban.

Namun dalam praktiknya, masih ada sejumlah persoalan dalam pemberitaan kasus KBG. Di antaranya penggunaan bahasa yang bias gender, pengungkapan identitas korban, pemberitaan yang menyudutkan korban atau victim blaming, hingga minimnya perspektif hak asasi manusia.

Karena itu, jurnalis dinilai perlu memahami konsep kekerasan berbasis gender, kerangka hukum dan kebijakan, etika peliputan, teknik wawancara berperspektif korban, hingga cara menyusun produk jurnalistik yang sensitif gender.

Materi tersebut menjadi semakin relevan karena kasus kekerasan berbasis gender terhadap perempuan masih tinggi.

Berdasarkan Catatan Tahunan (CATAHU) 2025 Komnas Perempuan, tercatat 376.529 kasus Kekerasan Berbasis Gender terhadap Perempuan (KBGtP) sepanjang 2025. Angka tersebut meningkat 14,07 persen dibandingkan tahun sebelumnya.

READ  PWI Konsolidasikan 38 Portal Daerah, Diluncurkan Serentak 1 Oktober

Sebanyak 337.961 kasus atau 89,76 persen terjadi di ranah personal. Komnas Perempuan menyebut rumah, relasi perkawinan dan relasi intim masih menjadi ruang yang rentan bagi perempuan.

PWI Salatiga: Berita Jangan Sampai Jadi Luka Kedua

Ketua PWI Kota Salatiga H Surya Yuli P mengatakan, kerja sama PWI Salatiga dengan OPSI dalam pelatihan tersebut menjadi kesempatan bagi wartawan dan content creator untuk kembali memperbarui pengetahuan mengenai peliputan kasus kekerasan berbasis gender.

“Terima kasih atas kesempatan yang diberikan kepada kami, teman-teman wartawan dan content creator yang ada di Salatiga, Kabupaten Semarang, dan sekitarnya, bisa hadir di tempat ini dan bisa bersama-sama belajar,” kata Surya.

Menurutnya, sebagian peserta bahkan merupakan wartawan senior yang telah puluhan tahun menjalankan tugas jurnalistik, termasuk meliput kasus kriminal dan kekerasan terhadap perempuan.

“Teman-teman ini senior semuanya, rata-rata. Di wilayah Salatiga ada yang sudah puluhan tahun. Pak Dekan ini sudah 25 tahun yang lalu, dari belum lulus sampai sebentar lagi mau punya cucu,” ujarnya.

Pengalaman panjang tersebut, kata Surya, tentu menjadi modal dalam mencari informasi dan melakukan peliputan. Namun, pengalaman juga tetap perlu diperbarui dengan perspektif yang lebih memahami posisi korban.

“Beliau juga tahu bagaimana mendapatkan informasi, wawancara, dan me-review kasus-kasus kekerasan, terutama terhadap perempuan,” katanya.

Surya juga mengingat kembali pengalaman ketika dirinya bersama wartawan lain mengejar pelaku kekerasan terhadap perempuan.

“Saya masih ingat sama Pak Dekan dulu pernah mengejar pelaku-pelaku kekerasan terhadap perempuan. Sampai di Tegalrejo dulu, aspalnya belum sampai di sana. Di Randuacir kita kejar sampai di sana,” ujar Surya.

Meski begitu, ia mengatakan tidak semua informasi yang diperoleh wartawan harus berujung menjadi pemberitaan. Ada situasi ketika kepentingan korban dan keluarganya harus menjadi pertimbangan.

READ  Kolaborasi USM, Kadin, dan PWI Jateng, Sejumlah Tokoh Inspiratif Diguyur Penghargaan Prasasta Gala Awards 2026

“Memang susah dan akhirnya kita memutuskan untuk tidak mengekspos. Kalau sampai diekspos, bagaimana rasa sakitnya korban maupun, saya yakin, keluarga di sekitarnya,” katanya.

Menurut Surya, pelatihan tersebut diharapkan memberikan perspektif baru bagi wartawan dalam menjalankan tugas jurnalistik.

“Mungkin dengan adanya pertemuan ini kita semakin di-upgrade lagi dengan ilmu dari bapak-bapak dan ibu-ibu dari lembaga yang kompeten berkaitan dengan kasus-kasus kekerasan,” ujar Surya.

Ia berharap materi yang diperoleh tidak berhenti selama pelatihan, tetapi benar-benar diterapkan ketika wartawan kembali melakukan peliputan di lapangan.

“Semoga dalam satu-dua hari ini kita dapat refresh yang baru, dapat ilmu yang baru, dapat ilmu yang bermanfaat sehingga ke depannya dalam tugas-tugas kita bisa semakin ikut mencegah terjadinya kekerasan berbasis gender,” katanya.

Surya juga mengingatkan pentingnya mencegah reviktimisasi, yakni kondisi ketika korban kembali mengalami dampak buruk akibat proses penanganan maupun pemberitaan atas kasus yang dialaminya.

“Kalau memang terjadi, bisa kita minimalisasi sehingga tidak terjadi yang disebut reviktimisasi maupun kekerasan yang lainnya. Do not harm, ya, do not harm,” ujar Surya.

Ia kemudian secara resmi membuka kegiatan pelatihan.

“Dengan mengucap bismillahirrahmanirrahim, saya nyatakan dibuka. Untuk kemajuan pers, untuk semua perempuan, semua lembaga yang terlibat, dan untuk Indonesia yang lebih bagus,” katanya.

Berita Terkait

Ketua PWI Jateng: Wartawan Tak Boleh Hanya Kejar Kecepatan, Akurasi Tetap Utama
PWI Konsolidasikan 38 Portal Daerah, Diluncurkan Serentak 1 Oktober
Kolaborasi USM, Kadin, dan PWI Jateng, Sejumlah Tokoh Inspiratif Diguyur Penghargaan Prasasta Gala Awards 2026

Berita Terkait

Sabtu, 26 September 2026 - 04:38

OPSI Gandeng PWI Salatiga, Wartawan Diajak Lebih Peka Saat Liput Kekerasan Berbasis Gender

Jumat, 25 September 2026 - 21:58

Ketua PWI Jateng: Wartawan Tak Boleh Hanya Kejar Kecepatan, Akurasi Tetap Utama

Jumat, 25 September 2026 - 21:49

PWI Konsolidasikan 38 Portal Daerah, Diluncurkan Serentak 1 Oktober

Berita Terbaru